1. Membuat kelompok belajar yang salah satunya harus ada siswa yang pandai
Mungkin banyak yang berpendapat bahwa belajar kelompok hanya akan
dimanfaatkan siswa yang malas untuk menyontek pekerjaan anak yang
pandai. Namun hal itu adalah salah. Usia sekolah dasar berbeda dengan
anak SMP atau SMA. Egoisme dan pengakuan lebih pandai masih sangat
melekat pada diri anak. Dari pengalaman saya saat ada kegiatan mengajar
di MI Muhammadiyah Kedung Banteng, saat saya membuat kelompok untuk
siswa, anak yang pandai bersikap galak seolah dia yang mengajar
temannya, tetapi hal ini bisa membuat siswa yang lain akan ikut serta
dalam mengerjakan tugas kelompok dari guru. Karena siswa yang lain tidak
mau di anggap hanya menebeng nama saja.
2. Sebaiknya guru tidak boleh memberi PR terlalu banyak
Hal ini bertujuan agar siswa tidak mudah bosan dalam mengikuti
proses pembelajaran, karena yang kita tahu bahwa guru zaman sekarang
memberikan PR yang terlalu banyak kepada siswa sehingga membuat siswa
enggan dalam mengerjakan tugas dari guru.
3. Hukuman bagi siswa yang tidak mengerjakan jangan terlalu berat.
Hukumlah siswa yang tidak mengerjakan dengan hukuman yang ringan tapi
"mendidik", misalnya:
a. menghukum dengan cara siswa disuruh menulis pada selembar folio
dengan kalimat yang mendidik agar siswa tidak melakukan lagi. misalnya
di suruh menulis kalimat "saya berjanji tida akn mengulanginya lagi ",
hal ini juga bisa melatih keterampilan siswa dalam menulis agar
tulisannya menjadi bagus, dan agar memberikan efek jerah pada siswa
b. menggosok papan setelah pelajaran selesai
c. menjawab beberapa pertanyaan PR yang sudah diberikan oleh guru
4. Berkomunikasi dengan wali murid
Hal ini sangat penting karena selain sebagai jembatan
komunikasi guru dengan orang tua murid tentang perkembangan siswa, hal
ini juga bertujuan agar orang tua mengetahui apakah anaknya semangat
atau tidak dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu wali murid
juga bisa bertukar pendapat tentang anaknya di sekolah.
5. Memberikan PR yang kreatif dan inovatif, misalnya :
a. membentuk soal dengan menyertakan gambar, agar siswa lebih tertarik dalam mengerjakannya
b. membentuk soal seperti bentuk origami, misalnya soalnya dibentuk
seperti bunga atau pesawat, hal ini bertujuan ketika siswa membuka soal
yang di berikan oleh guru siswa akan berantusias dalam mengerjakannya,
karena kebanyakn guru memberikan PR yang biasa-biasa saja atau hanya
berupa soal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar