Kamis, 13 Maret 2014

Menganalisis Unsur Intrinsik Novel Salah Asuhan Karya Abdul Moeis

 

Sinopsis Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis

Hanafi, laki-laki muda asli Minangkabau, berpendidikan tinggi dan berpandangan kebarat-baratan. Bahkan ia cenderung memandang rendah bangsanya sendiri. Dari kecil Hanafi berteman dengan Corrie du Bussee, gadis Indo-Belanda yang amat cantik parasnya. Karena selalu bersama-sama mereka pun saling mencintai. Tapi cinta mereka tidak dapat disatukan karena perbadaan bangsa. Jika orang Bumiputera menikah dengan keturunan Belanda maka mereka akan dijauhi oleh para sahabatnya dan orang lain. Untuk itu Corrie pun meninggalkan Minangkabau dan pergi ke Betawi. Perpindahan itu sengaja ia lakukan untuk menghindar dari Hanafi dan sekaligus untuk meneruskan sekolahnya.
Akhirnya ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah. Rapiah adalah sepupu Hanafi, gadis Minangkabau sederhana yang berperangai halus, taat pada tradisi dan adatnya. Ibu Hanafi ingin menikahkan Hanafi dengan Rapiah yaitu untuk membalas budi pada ayah Rapiah yang telah membantu membiayai sekolah Hanafi. Awalnya Hanafi tidak mau karena cintanya hanya untuk Corrie saja. Tapi dengan bujukan ibunya walaupun terpaksa ia menikah juga dengan Rapiah. Karena Hanafi tidak mencintai Rapiah, di rumah Rapiah hanya diperlakukan seperti babu, mungkin Hanafi menganggap bahwa Rapiah itu seperti tidak ada apabila banyak temannya orang Belanda yang datang ke rumahnya. Hanafi dan Rapiah dikarunia seorang anak laki-laki yaitu Syafei.
Suatu hari Hanafi digigit anjing gila, maka dia harus berobat ke Betawi agar sembuh. Di Betawi Hanafi dipertemukan kembali dengan Corrie. Disana, Hanafi menikah dengan Corrie dan mengirim surat pada ibunya bahwa dia menceraikan Rapiah. Ibu Hanafi dan Rapiah pun sangat sedih tetapi walaupun Hanafi seperti itu Rapiah tetap sabar dan tetap tinggal dengan Ibu Hanafi. Perkawinannya dengan Corrie ternyata tidak bahagia, sampai-sampai Corrie dituduh suka melayani laki-laki lain oleh Hanafi. Akhirnya Corrie pun sakit hati dan pergi dari rumah menujuSemarang. Corrie sakit Kholera dan meninggal dunia. Hanafi sangat menyesal telah menyakiti hati Corrie dan sangat sedih atas kematian Corrie, Hanafi pun pulang kembali ke kampung halamannya dan menemui ibunya, disna Hanafi hanya diam saja. Seakan-akan hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Hanafi sakit, kata dokter ia minum sublimat (racun) untuk mengakiri hidupnya, dan akhirnya dia meninggal dunia.

 
 
 
  Analisis Unsur Intrinsik Novel Salah Asuhan
 
1.      Tema

Adapun tema yang terkandung dalam

novel Salah Asuhan adalah perbedaan adat

istiadat.
 
2.      Alur

Alur yang digunakan dalam novel Salah

Asuhan adalah alur maju karna pengarang

menceritakan kisahnya kemasa selanjutnya.
 
3.      Pusat Pengisahan /Sudut Pandang

Dalam novel Salah Asuhan , pengarang

bertindak sebagai orang ketiga yaitu

menceritakan kehidupan tokoh -tokoh pada

novel.
 
4.      Latar /setting

Latar atau tempat terjadinya yaitu :
            
            Lapangan Tennis

“Tempat bermain tennis , yang dilindungi oleh

pohon- pohon kelepa disekitarnya, masih

sunyi” (hal .1 , paragraf 1 )
 
 
Minangkabau

“Sesungguhnya ibunya orang kampung, dan

selamanya tinggal di kampung saja, tapi

sebabkasihan kepada anak , ditinggalkannyalah

rumah gedang di Koto Anau, dan tinggallah ia

bersma-sama dengan Hanafi di

Solok.” ( halaman 23, paragraf 3 )

“Maka tiadalah ia segan -segan mengeluarkan uang

buat mengisi rumah sewaan di Solok itu secara

yang dikehendaki oleh anaknya .” (halaman 23,

paragraf 4 )
 
Betawi

“Dari kecil Hanafi sudah di sekolahkan di

Betawi ”(hal. 23, paragraph 1 )

“Sekarang kita ambil jalan Gunung Sari, Jembatan

Merah Jakarta, Corrie!” (halaman 103 , Paragraf 2)

Semarang

“Pada keesokan harinya Hanafi sudah dating pula

ke rumah tumpangan itu , dan bukan buatan

sedih hatinya, demikian mendengar bahwa

Corrie sudah berangkat . Seketika itu ia berkata

hendak menurutkan ke Semarang .” (halaman

186 )
 
 Surabaya

“Di Surabaya mereka menumpang semalam di suatu

pension kecil, mengaku nama Tuan dan Nona

Han.” ( halaman 144 , paragraf 1 )
 
5.      Tokoh
 
a)      Hanafi , wataknya keras kepala , kasar 
 
-  keras kapala

“Memang … .kasihan! Ah ibuku …aku pengecut tapi

hidupku kosong…habis cita-cita baik…enyah !. ”

Halaman 259 , paragraf 8 )
 
-  kasar

“ Hai Buyung! Antarkan anak itu dahulu

kebelakang!” kata Hanafi dengan suara bengis

dari jauh .” ( halaman 80, paragraf 2 )
             
            b)      Corrie , wataknya baik , mudah bergaul
 
-   baik

“O , sigaret tante boleh habiskan satu dos . Sudah

tentu enak , ayoh coba!” (halaman 164 )

-   mudah bergaul

“Oh , ruangan di jantung tuan Hanafi amat luas, ”

kata Corrie sambil tertawa, “buat dua tuga

orang perempuan saja masih berlapang -

lapang .” (halaman 7, paragraf 2 )
            
            c)      Rapiah , wataknya sabar, baik
 
- sabar

“Rapiah tunduk, tidak menyahut , airmatanya saja

berhamburan. Syafei , dalam dukungan ibunya

yang tadinya menangis keras, lalu mengganti

tangisnya dengan beriba -iba . Seakan-akan

tahulah anak kecil itu, bahwa ibunya yang tdak

berdaya, sedang menempuh azab dunia dan

menanggung aib di muka -muka

orang.” ( halaman 83, paragraf 4 )
 
- baik
 
“Apakah ayahmu orang baik ? Uah sungguh -

sungguh orang baik . Kata ibuku tidak adalah

orang yang sebaik ayahku itu. ” (halaman 238 ,

paragraf 5 )
           
            d)      Ibu Hanafi , wataknya sabar dan baik
 
-     sabar

“Astagfirullah , Hanafi ! Turutilah ibumu

mengucap menyebut nama Allah bagimu dan

tidak akan bertutur lagi dengan sejauh itu

tersesatnya” ( halaman 85, paragraf 4 )
 
-      baik

“Sekarang sudah setengah tujuh, sudah jauh

terlampau waktu berbuka , Piah ! Sebaik- baiknya

hendaklah engkau pergi makan

dahulu .” ( halaman 119 , paragraf 4)
          
            e)      Tuan Du Busse , wataknya tegas

            “Tapi Corrie mesti bersekolah yang sepatut-

            patutnya” (halaman 10 , paragraf 5)
            
            f)        Si Buyung, wataknya penurut

“Kau kugaji buat kesenanganku dan bukan buat

bermalas-malas . Hamba disuruh kejalan. Diam !

Bawa anak itu ke belakang. Angkat teh ke

dapurl alu menceritakan apa yang

diperintahkan kepadanya. Oleh karena gula

habis’ terpaksalah ia disuruh ke toko yang tidak

berapa jauh letaknya dari rumah. ” (halaman 80,

paragraf 2 )
 
g)      Syafei , wataknya berani

“Itulah yang kusukai , bu . Sekian musuh nanti

kusembelih dengan pedangku. ” (halaman 196 ,

paragraf 8 )
 
6.      Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang digunakan dalan novel

Salah Asuhan ini cukup sulit untuk diartikan.

Karna novel ini adalah novel lama dan dilamnya

juga terdapat bahasa Belanda . Pada novel ini

juga terdapat :
 
 
a)      Peribahasa

“saat ini , air mukamu jerni , keningmu licin,

bolehkah ibu menuturkan niatku itu, supaya

tidak menjadi duri dalam daging ” (halaman 25,

paragraf 3 )
b)      Majas perbandingan ( perumpamaan)

“Sesungguhnya tiadalah berdusta apabila ia

berkata sakit kepala , karna sebenarnyalah

kepalanya bagai dipalu ” ( halaman 47, paragraf 2)

7.      Amanat

Adapun amanat yang terkandung dalam

novel Salah Asuhan adalah :
 
Ø      Janganlah melupakan adat istiadat negeri

sendiri , jikalau ada adat istiadat dari bangsa

lain, boleh saja kita menerima tapi harus pandai

memilih, yaitu pilihlah adat yang layak dan baik

kita terima di negeri kita.
Ø      Jangan memaksakan suatu pernikahan yang

tidak pernah diinginkan oleh pengantin

tersebut, karena akhirnya akan saling menyiksa

keduanya.
 
8.      Diksi

Pemilihan kata pada novel Salah Asuhan ini

cukup sulit untuk dimengerti karena banyak

terdapat bahasa Belanda.
 
 
 
Semoga Bisa Membantu !!
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar